Sulitnya Bilang Terimakasih

13 Jul 2009

Hari Kamis, tepatnya tanggal 9 Juli 2009, saya bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Saya sendiri tidak habis pikir bisa bangun jauh lebih awal dari waktu yang saya pasang di alarm saya. Pukul 04.45 WIB, saya segera mandi dan bersiap-siap. Pagi ini saya merasa antusias karena saya jadi salah satu blogger yang mendapat kehormatan membagi-bagikan tiket gratis di jalur bus transjakarta, sambil merayakan ulangtahun detikcom yang ke-11.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya saya dijemput juga. Kurang lebih pukul tujuh kurang limabelas, saya ditemani tim dari manajemen, sampai di lokasi. Tepatnya di terminal bus transjakarta Pasar Baru. Begitu sampai, tim detikcom segera menyambut dan memberikan sejumlah tiket untuk dibagikan. Kami pun lantas bersiap-siap menyambut para pengguna bus transjakarta.

Agak lama juga kami menanti para calon penumpang bus transjakarta di terminal Pasar Baru ini. Yang ramai justru penumpang dari arah sebaliknya. Hmm, mungkin karena jam yang ditentukan terlalu pagi?

Beberapa saat kemudian, satu-dua orang mulai terlihat berjalan di sepanjang jembatan dan mendekat ke terminal. Dengan semangat, Ayu, salah seorang tim detikcom yang bertugas membagikan brosur dan pin gratis, segera menyapa, Saya pun tak mau ketinggalan, dan langsung memberikan tiket bus transjakarta, dan sambil tersenyum segera berkata, Selamat pagi, ini tiket gratis dari detikcom dalam rangka ulangtahun ke-11.

Rangkaian kalimat dan gesture itu pula yang senantiasa kami tampilkan setiap kali ada calon penumpang yang datang mendekat. Namun demikian, reaksi yang saya temukan bermacam-macam. Ada yang tampak begitu terburu-buru, sehingga ia hanya mengambil tiket gratis tanpa menghiraukan kami. Ada juga yang barangkali saking kagetnya, terbelalak dan hanya bilang, Oh.. lalu bergegas pergi dari hadapan kami.

Yang lebih parah lagi, ada seorang pria yang ngeloyor begitu saja saat saya menyodorkan tiket gratis. Lucunya, saat ada salah satu penjaga yang mengatakan itu tiket gratis, ia segera berputar dan kembali ke hadapan saya sambil bertanya mana tiket gratisnya, mengambil tanpa berkata-apa-apa, lalu tanpa ba-bi-bu langsung pergi begitu saja.

Itu belum apa-apa kalau dibanding yang satu lagi. Kali ini perempuan yang dari jauh saja raut wajahnya sudah tidak bersahabat. Benar saja perkiraan saya, dia tak menghiraukan saya sama sekali saat saya berusaha menjelaskan bahwa tiket yang saya berikan itu gratis. Dan tampaknya dia sama sekali tidak paham ketika petugas penjaga tiket meminta untuk mengambil tiket gratisnya dari saya. Malahan dia berputar-putar dua kali, lalu di kali yang ketiga menghampiri saya seraya menghardik, Cepetan dong, mana tiketnya!.

6014_100001224932_536444932_1880674_4234075_s

Tapi disamping keramahan khas metropolitan yang paradoks itu, ada dua orang yang benar-benar berhasil menyebarkan energi positif, setidaknya buat saya. Seorang bapak, yang begitu saya jelaskan hari ini ada tiket gratis dari detikcom, langsung bersyukur dengan mengucapkan, Alhamdulillah, terimakasih ya!, dan seorang ibu bersama anaknya yang dengan santun berujar, Terimakasih, Tuhan berkati, lengkap dengan senyuman yang terukir tulus di bibir mereka.

Dari sekitar 200 lebih tiket yang dibagikan gratis pada hari itu, saya sempat menghitung ucapan terimakasih yang saya dengar dari bibir para penumpang yang mendapat tiket. Ada 109 yang berhasil saya catat mengucapkan kata terimakasih. Dan itupun tentunya diucapkan dengan kadar ketulusan yang berbeda-beda.

Saya lantas berpikir, apakah mental warga Jakarta sudah sebegitu penatnya hingga mengucapkan kata terimakasih saja sulit ya?

Ah, sulit memang kalau dipikirin terus. By the way, terimakasih ya untuk pengalaman berbagi tiket gratisnya ?.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post