Masih Tetap Nyanyi?

18 Sep 2009

Lalu bagaimana kalau nanti sudah di DPR, masih tetap nyanyi?

bersama Bu Bina (ki-ka: Astrid, Irma, Ibu Bina, tERe), guru SD Charitas yang menyadarkan saya bahwa saya bisa nyanyi..

bersama Bu Bina (ki-ka: Astrid, Irma, Ibu Bina, tERe), guru SD yang pertama menyadarkan saya bahwa saya bisa nyanyi..

Kurang lebih pertanyaan seperti itulah yang hampir tiap saat mampir di telinga saya sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) mempublikasikan hasil perolehan suara pemilihan anggota legislatif 2009. Tidak hanya dari para pemburu berita, teman-teman, rekan-rekan bermusik yang setia mengiringi, tim manajemen, bahkan ayah mertua, yang selama ini menjadi dosen pembimbing saya dalam berkecimpung di dunia politik praktis. Semuanya persis bagaikan canon dalam sebuah choir, silih berganti untuk turut bersuara mempertanyakan hal yang sama.

Terus terang saja, agak capek memang saya mendengarnya. Dan jauh lebih melelahkan lagi ketika saya harus menjelaskannya secara rinci pada setiap orang yang berbeda. Berbeda dalam hal waktu, cara penyampaian, kondisi, mood, kapasitas penerimaan, latar belakang, kebutuhan, kemampuan, bahkan motif si penanya.

Tapi ya, seperti orang bijak bilang, selalu ada konsekuensi dalam setiap keputusan. Maka dengan segenap energi yang saya punya, saya berusaha tetap konsisten. Senantiasa berusaha berpikir jernih dalam menjelaskannya pada siapapun, sambil terus berusaha melihat dan memahami keadaan dari perspektif lain, yakni dari perspektif si penanya. Dan tugas seorang komunikator (pembicara) yang baik -sesuai disiplin ilmu yang saya pelajari di kampus dahulu- memang harus mampu memindahkan serangkaian pesan berupa pengetahuan, ide, dan opininya kepada komunikan (pendengar), mengeliminir seluruh gangguan dalam proses penyampaiannya, sampai akhirnya pesan tersebut mampu dicerna oleh komunikan dan tercipta sebuah pemahaman, dimana terdapat kesamaan persepsi diantara keduanya. Ini merupakan penjelasan bebas saya dari Teori Komunikasi yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm.

Baiklah. Karena saya tertantang untuk membuat sebanyak mungkin orang memahami sudut pandang saya, maka saya pikir saya harus menjelaskannya secara otentik, secara tertulis, oleh tulisan yang saya tulis sendiri. Lagipula saya kira ini juga adalah simulasi yang menarik, sebagai bentuk persiapan dalam tugas mengemban amanah nanti, jika saya harus menjelaskan berbagai dinamika politik yang ada pada banyak pihak, selama insya Allah lima tahun ke depan.

Sebelum menuju ke pertanyaan yang ada di awal tulisan ini, sangat penting jika kita mengupas latar belakangnya dulu. Dan kalau pertanyaan di atas itu dibedah, tentunya minimal harus ada dua pertanyaan sederhana yang mengawalinya.

Biar tidak bingung, mungkin bisa saya formulasikan urutan pertanyaannya seperti ini.

  1. Kenapa kamu menjadi penyanyi?
  2. Kenapa kamu masuk ke DPR?
  3. Lalu bagaimana kalau nanti sudah di DPR, masih tetap nyanyi?

Nah, sekarang saya akan mencoba menjelaskannya sekali lagi kali ini secara tertulis dengan bahasa yang ringan- kepada siapapun yang ingin mengetahui lebih dalam lagi isi benak saya.

Kenapa saya jadi penyanyi, saya sendiri juga awalnya bingung. Waktu kecil tidak pernah sedikitpun terbersit dalam diri saya menjadi seorang penyanyi terkenal. Malah cita-cita saya dulu agak banyak. Waktu SD pingin jadi dokter atau guru, pas SMP mau jadi designer, wartawan atau arsitek, giliran SMA hingga saat ini maunya jadi seniman.

Seniman itu sebenarnya kalau dalam bahasa Inggris padanan katanya adalah artist. Dari kata art (seni) yang ditambah imbuhan berupa akhiran ist. Akhiran ist secara etimologi berasal dari bahasa Yunani kuno, memiliki arti seseorang yang punya keahlian. Akhiran ist berfungsi membentuk kata benda dari kata yang terangkai sebelumnya. Jadi kata yang diterangkan adalah kata yang ada di depannya. Dengan begitu artist dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan sebagai orang yang punya keahlian di bidang seni.

Tapi entah kenapa di Indonesia kata artis (kata serapan dari artist) mengalami perubahan makna, bahkan mungkin peyorasi (penyempitan makna, dimana nilainya cenderung jadi lebih rendah). Artis jadi disamakan dengan selebritas atau seleb. Padahal kata serapan dari celebrity ini, menurut Kamus Bahasa Inggris Merriam Webster, memiliki makna yang berbeda, (1) the state of being celebrated; fame, (2) a famous or celebrated person. Jadi inti maknanya berbeda. Artis itu seni, seleb itu terkenal.

Artis itu adalah siapa saja yang menggeluti berbagai bidang seni dan menjadikan seni sebagai bidang keahliannya. Sementara seleb itu adalah siapa saja yang dikenal orang banyak. Namun khusus bagi seni musik, ketika mulai dikomersilkan secara masif sebagai penemuan produk teknologi di era revolusi industri (dari piringan hitam, radio, televisi, dan berkembang terus hingga saat ini ke Ring Back Tones serta turunan-turunan terbarunya), ia senantiasa diasosiasikan bahkan kerap bersandingan dengan industri.

Dampaknya, para artis yang memilih seni musik sebagai medium keahliannya, harus siap ketika industri musik mengubah mereka menjadi sebuah produk, bahkan brand, lengkap dengan efek samping dikenal publik. Hasilnya, para artis dari kalangan musik umumnya harus menyandang dua sebutan, artis dan seleb.

Sayangnya, lama-lama ini dianggap sama. Seleb dianggap sama maknanya dengan artis. Padahal sangat terbentang jauh perbedaan antara keduanya; hanya butuh satu kondisi yakni terkenal- untuk seseorang menjadi seleb, sementara untuk jadi artis, banyak keahlian di bidang seni yang mesti dikuasai.

Nah, saya semula tidak berkeinginan jadi penyanyi. Tapi karena saya ingin jadi seniman yang menguasai banyak bidang seni, karena saya senang mempelajari seni, suka menciptakan lagu dan memperdengarkan lagu tersebut dengan suara saya, akhirnya jalan hidup mendamparkan saya ke sebuah tempat yang bernama industri musik. Disitu saya diolah, mungkin system kerjanya mirip di butik (kalau tidak mau dibilang pabrik). Para artis dihimpun dari berbagai penjuru, di-set sesuai pesanan pasar (baca: penikmat musik Indonesia), dengan tetap berusaha (walau banyak juga yang tidak berupaya sama sekali) menitikberatkan kekuatan karakteristik artis sebagai sebuah produk, produk industri musik. Tentunya ini adalah proses yang penuh suka dan duka. Ketenaran tidak begitu saja hadir untuk para artis yang berkecimpung di bidang seni musik. Perlu ada serangkaian upaya dan kerja keras, dan harus ada karya yang diapresiasi banyak orang, dimana karya itulah yang membuat kita dikenal.

Kenapa saya masuk ke DPR, ini adalah serangkaian proses juga. Tidak dengan serta merta seperti jadi seleb. Dan tampaknya ini semua berawal dari kebutuhan psikologis saya sebagai penggiat organisasi.

Beruntung, sejak masih sekolah saya selalu tertarik untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan partisipatif. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya diijinkan Sang Khalik untuk mencicipi berbagai aktivitas leadership yang menarik, mulai dari jadi dirijen paduan suara, pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar, pengibar bendera Merah-Putih, pemimpin upacara, menjadi wakil sekolah dalam beberapa perlombaan baca puisi dan menyanyi, sampai kemudian dipercaya sebagai bendahara, sekretaris, wakil, dan ketua kelas, ketua kegiatan ekstra kurikuler, hingga wakil ketua himpunan mahasiswa jurusan di kampus saya dulu.

Pada awal tahun 2008 saat itu saya juga telah jadi volunteer di Yayasan Sejiwa dan Palang Merah Indonesia saya diajak bergabung dalam sebuah forum, bernama Forum Seniman Perempuan, yang rupanya adalah salah satu organisasi non struktural Partai Demokrat. Tak lama setelah saya bergabung, rekrutmen kader untuk pendaftaran kandidat calon anggota legislatif pun dibuka. Dan tentunya, seluruh organisasi under bow Partai Demokrat, termasuk Forum Seniman Perempuan dihimbau untuk berpartisipasi.

Sebagai salah satu warga negara yang turut menyaksikan transisi kepemimpinan dan pergerakan reformasi, serta kerap merasa jadi korban dari sistem pendidikan yang tidak ajeg, saya merasa terpanggil dan melihat ini sebagai sebuah bentuk tanggungjawab sosial. Tidak hanya untuk memenuhi kuota perempuan semata. Tapi karena saya merasa perlu ada upaya yang lebih aktif dari seluruh warga terlebih kaum perempuan, jika kita tetap menginginkan negeri ini terus ada. Apalagi secara momentum waktu, kala itu ada momen yang cukup menggetarkan hati dan membakar semangat. Sepuluh tahun sejak reformasi, dan seratus tahun Kebangkitan Nasional.

Saya amat concern dengan karakter dan mental kita sebagai bangsa. Karenanya, visi saya yang utama adalah memperjuangkan pendidikan karakter generasi muda, terutama anak dan perempuan, sebagai pemegang tongkat estafet masa depan bangsa ini. Sebab bagi saya, tugas ini bukan hanya ada di tangan para pemimpin, tapi di tangan kaum perempuan, penanam nilai dasar bagi seorang anak. Dan kemudian, di tangan anak muda, sebagai generasi penerus.

Bermodalkan sejumput idealisme, saya tertantang untuk berpartisipasi. Melengkapi hampir seluruh dokumen administrasinya sendiri, lantas turut mengikuti proses seleksinya, dan ternyata nama saya masuk di Daftar Caleg Tetap.

mengunjungi konstituen -pemilih pemula- di Banjaran, Kab Bandung

mengunjungi konstituen -pemilih pemula- di Banjaran, Kab Bandung

Beruntung saya diperkenankan memilih daerah pemilihan Jawa Barat II, yakni di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, sesuai arahan mertua saya. Dengan kapital sosial berupa integritas saya selama ini sebagai seorang artis, jaringan keluarga besar, background akademis yang masih cukup matching, dan biaya operasional sekitar sepuluh juta rupiah, saya tertantang untuk kreatif mengatur strategi. Rasanya seperti tengah menimba ilmu langsung di lapangan, memadukan ilmu komunikasi, psikologi, sosiologi, dan political marketing. Terlepas dari urusan hasil akhir, buat saya ini adalah proses kehidupan yang langka dan amat bernilai.

Menyambangi 21 titik desa yang sebagian besar merupakan daerah tertinggal, dengan pendekatan silaturahmi langsung ke konstituen, menjelaskan fungsi dasar lembaga negara, kenapa saya ada disana, dan apa visi saya, adalah hal yang saya lakukan sejak masa kampanye diberlakukan. Beruntung sekali lagi, kali ini bagi seluruh kader Partai Demokrat, karena mendapatkan sejumlah atribut berupa kaos dan kalender, sebagai kenang-kenangan untuk konstituen. Saya sendiri tidak menggunakan media konvensional seperti poster wajah saya, karena tampaknya itu bukan aktivitas yang tepat jika saya jalankan .

Yang paling menyita energi, tentunya bagian transfer pengetahuan. Bagaimana saya, seorang yang dengan kemampuan berbahasa Sunda sangat terbatas, menjelaskan visi misi saya sebagai legislator, dan memberikan pendidikan dasar politik kepada masyarakat sub-urban yang sebagian besar masih sangat awam.

Setelah Pemilu Legislatif berlangsung, ada pencapaian luarbiasa bagi Partai Demokrat, yang hasilnya mencengangkan banyak pihak. Hasil perhitungan KPU menunjukkan bahwa dari total suara sah yang masuk sebanyak 104.099.785 suara, dengan total pemilih tercatat yang masuk DPT ada 171.068.667 orang, Partai Demokrat mampu menjadi partai pemenang Pemilu dengan persentase 20,85%, yang setara dengan jumlah 21.703.137 suara.

Dan yang tak kalah menakjubkan, perolehan suara individu (saya sebagai caleg), mendapatkan amanah dari 21.672 orang. Saya berada di urutan tiga suara terbanyak di dapil saya. Satu lagi yang mengagetkan, rupanya jatah kursi yang tersedia untuk partai Demokrat di dapil Jawa Barat II ada 3 orang. Benar saja, selain Ibu Hj. Dr. Adjeng Ratna Suminar, SH, MM dan Bapak Ir. H.Roestanto Wahidi D, MM, ada nama saya juga tercantum sebagai salah satu anggota DPR terpilih untuk tingkat pusat.

Saya yakin, ini semua tidak lepas dari skenario Sang Khalik. Namun jika ditelaah secara keilmuan, barangkali teori Meaning Transfer Model yang dikembangkan oleh Grant McCracken, bisa menjelaskan bagaimana icon SBY, menjadi sangat efektif dalam penggunaan endorser selebritas dalam kampanye Pileg 2009.

Menurut McCracken, ada tiga tahapan proses transfer budaya yang dilalui ketika selebritas menjadi endorser suatu merek produk. Ketika selebritas atau keterkenalan SBY digunakan sebagai endorser suatu merek produk (dalam hal ini merek kita substitusi menjadi Partai Demokrat), ada makna budaya (berupa figur kepemimpinan yang indikator detilnya perlu diteliti lebih lanjut) yang ditransmisikan dari selebritas (SBY) ke produk (Partai Demokrat dan seluruh kadernya), lalu kemudian dari produk ke khalayak yang menjadi sasaran kampanye Pemilu Legislatif. Mengacu pada teori ini, selebritas penyokong harus mampu berperan sebagai grup referensi aspirasional bagi khalayaknya, yang merupakan calon pemilih. Mentransfer nilai budaya pada calon pemilih, hingga mereka yakin untuk mencontreng nama kader Demokrat pada saat pemungutan suara.

Kalau nanti kalau sudah di DPR, masih tetap nyanyi? Ini dia pertanyaan yang sebenarnya ditunggu-tunggu jawabannya. Mungkin saja ada yang kesal dan menganggap bagian tulisan ini sebelumnya membuang-buang waktu saja. Tapi, jawaban atas dua pertanyaan sebelumnya sangat penting untuk bisa memahami sudut pandang saya.

Kalau sudah di DPR, tepatnya sudah dilantik dan mulai bertugas secara resmi, tentunya mengemban amanah rakyat Indonesia akan jadi tugas utama saya dan 559 anggota DPR-RI terpilih lainnya (walaupun yang memilih saya hanya 21.672 orang saja). Menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, sesuai dengan penempatan komisi yang ditetapkan oleh Fraksi. Karenanya, sejak nama saya tertera di KPU sebagai calon anggota DPR-RI, saya dan tim manajemen memutuskan untuk meluangkan jadwal demi fokus ke persiapan menuju Senayan. Berhenti menerima tawaran bermusik di ruang publik yang sifatnya komersil, dan hanya menjalankan sisa kontrak kerjasama yang sudah sempat masuk.

Sebagai wakil rakyat, tentunya saya harus siap dengan sejumlah komitmen yang harus dijaga. Namun hal yang terpenting untuk setiap legislator saat ini, apapun latar belakangnya, ia harus mampu menunjukkan kepada masyarakat, bahwa sistem demokrasi perwakilan ini masih bisa berjalan. Caranya? Saya pikir yang utama adalah mengoptimalkan kinerja, baik kapasitas individu maupun saat bersinergi dengan sesama wakil rakyat, agar Undang-Undang sebagai hasil karya wakil rakyat, tidak hanya dibuat, tapi juga bisa diimplementasikan menyeluruh oleh pihak eksekutif, dan diawasi pelaksanaannya agar terealisasi manfaatnya bagi rakyat. Jadi antara Undang-Undang (konsepsi ideal) dengan aspek riil (pelaksanaan) di lapangan diharapkan tidak jauh jaraknya.

Satu hal yang perlu juga diingat, bagaimanapun juga legislator pun manusia biasa. Bukan superhero yang pasti akan menyelamatkan setiap umat manusia. Karenanya, agar hidup tetap sehat lahir dan batin, semua orang membutuhkan medium untuk relaksasi.

Jika hari-hari kita penuh dengan beban berat, tentunya kita memiliki kebutuhan untuk menyalurkan, membuang penat yang ada. Itu sebabnya kita selalu disarankan untuk melepas stres dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan batin kita, seperti menjalankan hobi. Ada yang senang berolahraga, ada yang suka bermusik (termasuk bernyanyi), jalan-jalan dan lain sebagainya. Intinya, aktivitas ini dibutuhkan agar seseorang tetap memperoleh keseimbangan dalam hidup.

Nah, aktivitas bermusik, termasuk diantaranya bernyanyi, adalah kegiatan yang saya butuhkan untuk menyeimbangkan hidup saya, sebagai pemenuhan kebutuhan psikologis. Karena lewat aktivitas berkesenian inilah saya bisa menetralisir diri saya, seperti detoksifikasi energi negatif dengan frekuensi bunyi.


Namun sayangnya, seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, kegiatan bermusik, seringkali direduksi hanya jadi kegiatan industri, akibat kesalahpahaman masal. Masih banyak yang terlalu naif menganggap kegiatan bermusik hanyalah sebuah ornamen, produk dari industri. Padahal, kalau kita berkaca pada definisi kebudayaan, sangat jelas bahwa berkesenian adalah salah satu bentuk nyata, yang mengindikasikan seseorang berbudaya.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri, integritas saya dalam berkesenian juga merupakan faktor yang mempengaruhi likability pemilih terhadap saya. Kembali mengacu pada teori McCracken, sangat mungkin mereka yang penikmat lagu saya, memilih saya karena ada makna budaya yang ditransfer lewar lagu saya, ke figur saya. (diluar faktor iconic SBY).

Itu sebabnya, saya tetap memilih bermusik dan bernyanyi dengan formula saya, terlepas apapun pendapat minor yang menyertai keputusan saya ini. Karena saya yakin, dengan tetap bermusik, saya bisa melakukan banyak hal yang positif. Bukan melulu supaya dibayar, tapi agar orang-orang yang terluka batinnya bisa terobati lewat musik dan nyanyian saya. Seperti yang telah dan akan saya terus lakukan pada anak-anak penderita sakit kanker, anak-anak di panti asuhan, anak-anak korban bencana, dan anak-anak lain yang punya mimpi merengkuh dunia lewat keajaiban musik.

Sudah ada banyak buktinya, betapa musik dengan frekuensi yang tulus mampu menggetarkan banyak hati. Salah satunya adalah ketika sejumlah musisi berpartisipasi dalam konser kemanusiaan Jazz for West Java,di Taman Ismail Marzuki pada hari Minggu, 13 September 2009, yang berhasil mengumpulkan donasi 260 juta lebih untuk disumbangkan melalui PMI. Lalu dua hari lalu, tanggal 16 September 2009, ketika para artis dan organisasi kepemudaan bergandengan tangan menyelenggarakan konser amal 7.3 Sympathy di MU Cafe, dan berhasil mengumpulkan 100 juta lebih donasi untuk korban gempa.

bersama PMI, Psikososial Support Program di Pengalengan dan Cimaung, 16 Sept 2009

bersama PMI, Psikososial Support Program di Pengalengan dan Cimaung, 16 Sept 2009


Yang paling melegakan, alhamdulillah saya bisa berpartisipasi disitu, setelah sebelumnya menghibur korban bencana gempa di Cimaung dan Pengalengan, dengan bermusik. Menggunakan bakat yang diberikan-Nya pada saya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dari sekedar mempertimbangkan aspek komersial belaka.

Mudah-mudahan mereka yang tidak bernyanyi dan tidak paham esensi keindahan bermusik bisa memaknai perspektif saya ini. ?


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post